Saturday, April 22, 2006

Keutamaan Membaca al-Qur'an


Menyibukkan diri dengan membaca al-Qur'an al-Karim termasuk ibadah yang paling utama dan merupakan salah satu sarana yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, mengharap ridha-Nya, memperoleh keutamaan dan pahala-Nya*1).Sebab al-Qur'an adalah kalamullah*2).dan merupakan asas Islam yang diturunkan kepada Rasul termulia, untuk umat terbaik yang pernah dilahirkan kepada umat manusia; dengan syari'at yang paling utama, paling mudah, paling luhur dan paling sempurna. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan sholat dan menafkahkan sebahagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi," (Qs. Fâthir [35]: 29).
"Dan apabila dibacakan al-Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat." (Qs. al-A’râf [7]: 204).*3)
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci?" (Qs. Muhammad [47]: 24).
Rasulullah Saw seringkali menyuru para sahabat untuk membaca al-Qur'an di depan Beliau. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwasannya Rasulullah Saw pernah berkata kepada Ibnu Mas'ud, dimana pada saat itu Rasulullah sedang di atas mimbar, "Bacakanlah kepadaku al-Qur'an!" Ibnu Mas'ud berkata, "Pantaskah aku membacakan untukmu, sedangkan al-Qur'an diturunkan kepadamu?" Rasulullah Saw menjawab, "Sungguh aku senang mendengarnya dari orang lain." Lalu Ibnu Mas'ud pun membacakan surat an-Nisâ' [4] hingga ayat yang berbunyi:
"Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu*4))." (Qs. an-Nisâ' [4]: 41).
Beliau bersabda, "Cukup…Cukup!" Ketika aku menoleh, kata Ibnu Mas'ud, aku melihat air mata beliau bercucuran.
Dari Ibnu 'Abbas ra berkata, "Nabi Saw adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan kepadanya al-Qur'an. Jibril menemui setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan kepadanya al-Qur'an. Rasulullah Saw ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus."*5)
Marilah kita perhatikan hadits-hadits nabi yang menceritakan tentang keutamaan membaca al-Qur'an, serta tentang segala kebaikan yang sangat banyak kandungannya. Rasulullah Saw bersada:
"Bacalah al-Qur'an karena sesungguhnya al-Qur'an itu nanti pada hari kiamat akan datang untuk memberi syafa'at kepada orang yang membacanya."*6)
"Orang yang membaca al-Qur'an dan ia mahir maka nanti akan bersama-sama dengan para malaikat yang mulia lagi taat. Sedang orang yang mebaca al-Qur'an dan ia merasa susah di dalam membacanya tetapi ia selalu berusaha maka ia mendapat dua pahala."*7)
"Perumpamaan orang mukmin yang membaca al-Qur'an itu adalah seperti utrujah yang mana baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak suka membaca al-Qur'an itu seperti buah korma yang mana tidak berbau tapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca al-Qur'an itu seperti bunga yang mana baunya harum tetapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca al-Qur'an itu seperti hanzhalah yang mana tidak berbau dan rasanya pahit."*8)
"Tidak ada iri hati itu diperbolehkan kecuali dalam dua hal yaitu: seseorang yang diberi kemampuan oleh Allah untuk membaca dan memahami al-Qur'an kemudian ia membaca dan mengamalkannya baik pada waktu malam maupun siang; dan seseorang yang dikarunia harta oleh Allah kemudian ia menafkahkannya dalam kebaikan baik pada waktu malam maupun siang."*9)
"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (al-Qur'an) maka ia mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatkan, 'Alif lâm mîm' satu huruf tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.”*10)
Dalam hal membaca al-Qur'an, Rasulullah Saw telah mencontohkan kepada kita untuk membaca dengan tartil, dan tidak terburu-buru, dalam rangka melaksanakan firman Allah SWT:
"Dan bacalah al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan (tartil)." (Qs. al-Muzzammil [73]: 4).
Rasulullah Saw juga bersabda:
"Kelak (di akhirat) akan dikatakan kepada Shahibul Qur'an (orang yang senantiasa bersama-sama dengan al-Qur'an, penj.), 'Bacalah, naiklah terus dan bacalah dengan perlahan-lahan (tartil) sebagaimana engkau telah membaca al-Qur'an dengan tartil di dunia. Sesungguhnya tempatmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.*11) "*12)
Tentang keutamaan berkumpul di masjid-masjid untuk mempelajari al-Qur'an al-Karim, Rasulullah Saw bersabda:
"Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali turunlah ketenangan atas mereka, serta mereka diliputi rahmat, dikerumuni para malaikat dan disebut-sebut oleh Allah kepada para malaikat di hadapan-Nya." [HR. Muslim].
"Apabila suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) sambil membaca al-Qur'an dan saling bertadarus bersama-sama, niscaya akan turun ketenangan atas mereka, rahmat Allah akan meliputi mereka, para malaikat akan melindungi mereka dan Allah menyebut mereka kepada makhluk-makhluk yang ada di sisi-Nya."*13)

[Dikutip dari buku Ramadhan, Bulan Istimewa Bagi Kaum Muslimin, karya Muhammad Ramadhan al-Muhtasib, dengan sedikit perubahan].

Catatan Kaki:
1. Silahkan baca kitab Min Muqawimat Nafsiyah Islamiyah, yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir, dan kitab Taqarrub Ilallah: Kunci Meningkatkan Kualitas Keimanan dan Ketaqwaan, oleh Fauzy Sanqarith dan M. al-Khaththath.
2. Kalamullah artinya firman Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah untuk disampaikan kepada manusia, bukan rekaan Nabi Saw dan bukan ucapan siapapun selain Allah SWT.
3. Maksudnya: jika dibacakan al-Qur'an kita diwajibkan mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri, baik dalam sembahyang maupun di luar sembahyang, terkecuali dalam shalat berjamaah ma'mum boleh membaca Qs. al-Fâtihah [1] sendiri waktu imam membaca ayat-ayat al-Qur'an.
4. Seorang nabi menjadi saksi atas perbuatan tiap-tiap umatnya, apakah perbuatan itu sesuai dengan perintah dan larangan Allah atau tidak.
5. HR. Bukhari dan Muslim. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dengan tambahan: "Dan beliau tidak pernah dimintai sesuatu kecuali memberikannya."
6. HR. Muslim, dari Abu Umamah ra.
7. HR. Bukhari dan Muslim, dari Aisyah ra.
8. HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa al-Asy'ary ra.
9. HR. Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Umar ra.
10. HR. at-Tirmidzi, dari Ibnu Mas'ud, dan katanya hadits ini hasan shahih.
11. Maksudnya kelak di akhirat tempatnya tergantung pada sedikit banyaknya bacaan al-Qur'an di Dunia. Semakin banyak, maka akan semakin tinggi, sehingga dalam hadits itu dikatakan "naiklah".
12. HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash ra, dan katanya hasan shahih.
13. Bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Muslim no. 2699 dalam kitab Dzikir dan Do'a, bab Fadhlul Ijtima 'Ala Tilawatil Qur'an wa 'Aladz Dzikir dari hadits Abu Hurairah ra.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home